Content Marketing: Pengertian, Jenis, dan Contoh Strateginya
Content marketing adalah cara menarik pembeli lewat konten yang berguna. Pelajari pengertian, jenis, peran di funnel, strategi 6 langkah, dan contoh untuk UMKM.

Memotret produk dengan ponsel sering menjadi titik awal konten usaha kecil.
Content marketing adalah strategi pemasaran yang membuat dan membagikan konten bermanfaat, seperti artikel, video pendek, dan carousel, untuk menarik calon pembeli tanpa menyela mereka seperti iklan. Jenisnya antara lain konten di website dan blog, media sosial, video, infografik, podcast, dan konten iklan berbayar. Strategi sederhananya: kenali audiens, tetapkan tujuan, susun tiga sampai empat pilar konten, pilih format dan kanal, buat jadwal yang realistis, lalu ukur hasilnya.
Daftar isi
Content marketing adalah cara memasarkan usaha dengan membuat dan membagikan konten yang berguna, misalnya tips, panduan, atau video pendek, supaya calon pembeli datang sendiri karena merasa terbantu. Bukan dengan menyela mereka lewat iklan atau pesan promosi beruntun. Kalau kamu pernah menyimpan video "cara merawat sepatu kulit" lalu beberapa minggu kemudian membeli semir dari akun yang sama, kamu sudah merasakan cara kerjanya.
Ruang untuk konten semacam ini besar. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025, setara 62,9 persen populasi. DataReportal sendiri mengingatkan angka identitas itu belum tentu sama dengan jumlah orang unik. Jadi bacalah sebagai gambaran betapa ramainya tempat itu, termasuk ramainya pesaing yang juga berebut perhatian.
Di artikel ini kamu belajar teorinya dulu (pengertian, jenis, dan perannya di funnel), lalu langsung praktik: menyusun strategi enam langkah dan contoh rencana satu minggu untuk usaha kecil. Semua bahan latihan bisa kamu kerjakan dengan ponsel dan alat gratis.
Apa itu content marketing? Pengertian dan cara kerjanya
HubSpot memberi dua rumusan yang saling melengkapi. Rumusan pertama pendek: content marketing adalah publikasi materi tertulis dan visual secara online untuk menarik lebih banyak calon pelanggan ke bisnismu. Rumusan kedua lebih lengkap: kegiatan merencanakan, membuat, mendistribusikan, membagikan, dan menerbitkan konten lewat kanal seperti media sosial, blog, website, podcast, dan aplikasi, dengan tujuan menjangkau target pasar serta menaikkan kesadaran merek, penjualan, keterlibatan, dan loyalitas.
Ada satu kalimat di panduan yang sama yang menurut kami paling penting: content marketing bukan menerbitkan konten tipis yang nilainya kecil. Fokusnya membuat materi bernilai yang ditemukan sendiri oleh audiens saat mereka menjelajah. Itu sebabnya content marketing dekat dengan inbound marketing, yaitu pendekatan yang menarik orang datang, kebalikan dari outbound yang menyela.
Cara kerjanya bisa diringkas jadi tiga gerakan:
- Menarik perhatian dengan menjawab pertanyaan atau masalah calon pembeli.
- Membangun kepercayaan karena jawabanmu terbukti membantu, berulang kali.
- Mengarahkan ke tindakan saat mereka siap, misalnya bertanya harga, memesan, atau mendaftar.
Tabel berikut adalah gambaran umum dari kami, bukan hasil pengukuran:
| Aspek | Content marketing | Iklan dan promosi langsung |
|---|---|---|
| Cara bertemu pembeli | Pembeli menemukan kontenmu saat mencari atau menjelajah | Pesanmu muncul di tengah aktivitas mereka |
| Isi utama | Jawaban, panduan, cerita, contoh | Penawaran, harga, ajakan membeli |
| Umur hasil | Konten bisa terus ditemukan setelah diterbitkan | Iklan berhenti tayang saat anggaran berhenti |
| Kecepatan | Butuh waktu sebelum terasa | Mulai menjangkau orang begitu iklan tayang |
Salah kaprah yang perlu dihindari: akun yang setiap hari mengunggah foto produk plus harga, lalu menyebutnya content marketing. Itu katalog, dan katalog tetap perlu. Tapi kalau seluruh isinya katalog, pembeli tidak punya alasan untuk mengikuti akunmu sebelum mereka siap membeli.
Satu catatan lagi. Content marketing tidak menggantikan iklan. HubSpot sendiri menyebut iklan berbayar paling bermanfaat bila dipadukan dengan inbound marketing. Menurut kami, konten yang sudah disukai secara organik layak jadi kandidat pertama saat kamu mencoba iklan. Bedanya, konten yang kamu terbitkan, terutama di website sendiri, tetap ada setelah kamu berhenti membayar iklan.
Jenis content marketing yang paling sering dipakai
Panduan HubSpot tentang content marketing mendaftar tujuh jenis yang paling umum. Kami susun ulang dengan contoh yang lebih dekat dengan usaha kecil di Indonesia. Semua contoh usaha di tabel ini adalah contoh ilustrasi.
| Jenis | Bentuknya | Contoh ilustrasi untuk usaha kecil |
|---|---|---|
| Konten website | Halaman di situsmu sendiri, termasuk halaman produk | Halaman "cara memilih ukuran" di toko baju muslim |
| Media sosial | Foto, video, story, siaran langsung di Instagram, TikTok, Facebook | Reels proses membuat sambal di dapur rumahan |
| Infografik | Informasi yang diringkas jadi gambar | Carousel "5 langkah menyeduh teh tubruk di rumah" dari toko teh |
| Blog | Artikel yang menjawab pertanyaan secara lengkap | Artikel "cara merawat tanaman monstera di apartemen" dari toko tanaman |
| Podcast | Rekaman obrolan audio | Obrolan pemilik kedai kopi tentang cara menyeduh di rumah |
| Video | Video pendek maupun panjang | Video perbandingan dua jenis kain gamis |
| Konten iklan berbayar | Konten yang disebar dengan iklan | Video tips yang sudah ramai secara organik, lalu dipromosikan |
Mana yang paling banyak dipakai? Rangkuman statistik pemasaran HubSpot mencatat bahwa pada 2025 video pendek adalah format yang paling banyak dipakai pemasar (60 persen), disusul video panjang dan artikel blog yang sama-sama 38 persen (sumbernya HubSpot State of Marketing Report 2026). Perlu diingat, angka itu berasal dari survei pemasar secara umum, bukan survei khusus UMKM Indonesia.
Jadi apakah kamu wajib membuat video? Menurut kami tidak wajib, tapi sebaiknya dicoba. Video pendek memang populer, namun artikel dan halaman website punya kelebihan sendiri: bisa terus ditemukan lewat mesin pencari jauh setelah diterbitkan, dan isinya bisa kamu potong menjadi caption, carousel, atau naskah video. Kalau kamu ingin videomu lebih mudah ditemukan, pelajari dulu cara kerja FYP di TikTok.
Ada satu jenis lagi yang layak kamu perhatikan: konten buatan pembeli, atau UGC (user generated content). Foto pembeli yang memakai produkmu, video unboxing, dan ulasan berfoto di marketplace termasuk di sini. HubSpot memasukkan testimoni pembeli ke daftar konten tahap keputusan, dan menurut kami kekuatannya ada di sumbernya: datang dari orang lain, bukan dari penjual.
Content marketing di setiap tahap funnel
Calon pembeli tidak langsung membeli begitu melihat kontenmu. Mereka melewati beberapa tahap, dan HubSpot menyarankan kamu memetakan konten ke funnel supaya setiap tahap punya konten yang menjawab kebutuhannya.

Tahap kenal (TOFU, top of the funnel). Orang tahu mereka punya masalah, tapi belum tahu solusinya. Konten yang cocok menurut HubSpot antara lain artikel blog, unggahan media sosial, video pendek, infografik, dan daftar periksa. Contoh ilustrasinya, toko perlengkapan bayi membuat video "daftar perlengkapan yang biasa disiapkan sebelum persalinan".
Tahap pertimbangan (MOFU, middle of the funnel). Mereka sudah memahami masalahnya dan sedang membandingkan pilihan. HubSpot menyarankan konten yang menjelaskan detail solusimu dan menunjukkan kecocokannya dengan kebutuhan mereka, misalnya studi kasus, demo produk, dan buletin. Untuk usaha kecil, panduan memilih dan perbandingan varian juga masuk di sini. HubSpot mengingatkan agar jangan buru-buru mengejar penjualan di tahap ini karena bisa merusak hubungan.
Tahap keputusan (BOFU, bottom of the funnel). Mereka siap membeli dan butuh alasan terakhir. Daftar HubSpot untuk tahap ini antara lain halaman harga, ulasan dan testimoni pembeli, dan video demo, ditambah ajakan bertindak (call to action) yang kuat. Untuk usaha kecil, katalog dan harga yang jelas juga masuk di sini.
Coba sekarang: buka 12 unggahan terakhir akun usahamu, lalu tandai masing-masing dengan K (kenal), P (pertimbangan), atau B (keputusan). Kalau hampir semuanya B, akunmu hampir hanya berbicara ke orang yang sudah siap membeli, dan belum memberi alasan bagi orang yang baru kenal untuk mampir.
Pemetaan ini juga menjelaskan kenapa angka yang kamu pantau berbeda di tiap tahap. Menurut kami, konten tahap kenal lebih pas dinilai dari jangkauan dan simpanan, sedangkan konten tahap keputusan dari pesan masuk dan pesanan. Pembahasan lebih dalam soal angka per tahap ada di artikel funnel marketing.
Cara menyusun content marketing strategy dalam 6 langkah
HubSpot merinci strategi konten menjadi sembilan langkah. Untuk usaha yang dikerjakan satu sampai tiga orang, kami ringkas menjadi enam langkah di bawah ini. Bedanya, kami menggabungkan beberapa langkah dan menambahkan satu yang tidak ada di daftar HubSpot, yaitu pilar konten.

1. Kenali audiens
HubSpot menyarankan fokus pada kelompok orang dengan minat dan kebutuhan yang spesifik, bukan semua orang. Mulai dari buyer persona, lalu jawab lima pertanyaan: apa yang mereka butuhkan darimu, masalah apa yang ingin mereka atasi, kenapa mereka butuh produkmu, bagaimana kamu bisa membantu, dan di mana mereka menghabiskan waktu. Sumber jawaban terbaik biasanya ada di chat pembeli. Pertanyaan yang muncul berulang kali adalah bahan konten yang paling jujur.
2. Tetapkan tujuan dan KPI
Pilih satu tujuan utama untuk tiga bulan ke depan, lalu satu atau dua angka pengukurnya (KPI, key performance indicator). Contoh dari tabel HubSpot: tujuan kesadaran merek diukur dengan kunjungan situs, pengikut, dan sebutan; tujuan pendapatan diukur dengan penjualan harian; tujuan keterlibatan diukur dengan suka, bagikan, dan sebutan. Jangan memantau semuanya sekaligus, karena kamu akan sibuk mencatat, bukan membuat.
3. Tentukan pilar konten
Pilar konten adalah beberapa tema besar yang kamu ulang terus, misalnya edukasi, proses di balik layar, bukti dari pembeli, dan penawaran. Panduan Kelola Konten di bawah memakai rentang tiga sampai lima pilar; untuk usaha yang dikerjakan sendiri, kami sarankan mulai dari tiga atau empat. Dengan pilar, kamu tidak bingung setiap pagi mau posting apa. Cara memilih dan membagi porsinya dibahas lengkap di panduan pilar konten media sosial dari Kelola Konten, dan istilahnya juga dijelaskan di artikel Creativism tentang content pillar.
4. Pilih format dan kanal
HubSpot membedakan jenis konten (misalnya blog) dan formatnya (daftar, panduan langkah, ulasan). Untuk kanal, sarannya tegas: cari platform yang paling sering dipakai audiensmu, lalu fokus di sekitar tiga saja. HubSpot menyebut hadir di semua platform tidak akan efektif kecuali kamu punya anggaran dan tim yang besar.
Konten juga tidak harus dibuat dari nol untuk tiap kanal. Data HubSpot dari laporan 2023 mencatat 48 persen pemasar media sosial membagikan konten yang sama atau diolah ulang dengan sedikit penyesuaian di berbagai platform, sementara 34 persen membuat konten unik untuk tiap platform.
5. Buat jadwal yang realistis
Tuangkan pilar dan format ke kalender konten: tanggal, kanal, pilar, format, dan siapa yang mengerjakan. HubSpot menyarankan kalender supaya produksi konsisten dan bisa dijadwalkan lebih awal. Kata kuncinya realistis. Kalau kamu hanya punya waktu Sabtu pagi, jadwal tiga unggahan per minggu yang dibuat sekaligus jauh lebih awet daripada target harian yang bubar di minggu kedua. Teknik membuat beberapa konten dalam satu sesi dijelaskan di artikel batching konten.
6. Ukur dan perbaiki
Cek angka sekali seminggu, di hari yang sama. Untuk unggahan media sosial, engagement rate membantu membandingkan unggahan yang jangkauannya berbeda. Pertahankan pilar dan format yang angkanya naik, kurangi yang terus turun, lalu kembali ke langkah pertama setiap tiga bulan.
Contoh content marketing untuk UMKM: rencana satu minggu
Supaya tidak berhenti di teori, berikut contoh ilustrasi rencana satu minggu untuk usaha fiktif "Kue Bu Rina", toko kue kering rumahan yang berjualan lewat Instagram, WhatsApp, dan marketplace. Tujuannya dalam tiga bulan: menambah pesanan untuk hampers lebaran. Pilarnya empat: edukasi, di balik layar, bukti pembeli, dan penawaran.
| Hari | Pilar | Format dan kanal | Isi | Tahap funnel |
|---|---|---|---|---|
| Senin | Edukasi | Carousel Instagram | Cara menyimpan kue kering di rumah supaya tidak cepat melempem | Kenal |
| Rabu | Di balik layar | Reels dan status WhatsApp | Proses memanggang nastar dari adonan sampai dikemas | Kenal dan pertimbangan |
| Jumat | Bukti pembeli | Story dan sorotan Instagram | Ulang foto pembeli yang membuka hampers, dengan izin | Keputusan |
| Sabtu | Penawaran | Unggahan feed dan katalog WhatsApp | Pilihan isi hampers, harga, dan batas pemesanan | Keputusan |
Perhatikan polanya. Tiga dari empat unggahan tidak menjual secara langsung, tetapi semuanya mengarah ke unggahan Sabtu. Konten edukasi juga dipakai ulang: isinya bisa menjadi deskripsi produk di marketplace dan jawaban otomatis saat pembeli bertanya cara menyimpan.
Kehabisan ide? Generator ide konten di situs ini menyediakan ide per jenis usaha (kuliner, fashion, kecantikan, jasa, kerajinan, edukasi) dan per platform, lengkap dengan format dan kalimat pembuka. Untuk kalimat yang membuat orang berhenti menggulir, pelajari dasar copywriting. Kalau tujuanmu menumbuhkan akun dari nol, baca juga cara menambah followers Instagram secara organik.
Tips: untuk pilar edukasi, contoh bentuk dan topiknya dikumpulkan di artikel konten edukasi dari Kelola Konten. Pilih satu yang paling dekat dengan pertanyaan pembelimu, jangan semuanya.
Kesalahan yang membuat content marketing tidak jalan
Google punya panduan membuat konten yang bermanfaat dan mengutamakan pengguna yang aslinya ditujukan untuk mesin pencari, tapi pertanyaannya cocok untuk konten di mana pun. Salah satunya: setelah membaca kontenmu, apakah seseorang merasa mendapat cukup pengetahuan untuk mencapai tujuannya? Dari situ, ada lima kesalahan yang perlu kamu hindari:
- Membuat konten untuk algoritma, bukan untuk pembeli. Panduan Google yang sama bertanya apakah kamu menulis sesuatu hanya karena topiknya sedang tren, bukan karena ditujukan untuk audiensmu. Ikut tren yang tidak nyambung dengan produkmu mungkin menaikkan tayangan sesaat, tapi penontonnya belum tentu calon pembeli.
- Terlalu banyak kanal. Membuka akun di semua platform terasa produktif, padahal HubSpot sendiri menyarankan fokus di sekitar tiga platform saja.
- Tidak punya jadwal tertulis. Tanpa kalender, konten hanya muncul saat sedang sempat, dan biasanya isinya langsung jualan.
- Mengukur dengan angka yang salah. Suka dan tayangan enak dilihat, tapi kalau tujuanmu pesanan, catat juga pesan masuk dan pesanan yang menyebut konten tertentu.
- Berhenti terlalu cepat. Untuk konten yang ditemukan lewat Google, Panduan Memulai SEO dari Google menyebut sebagian perubahan butuh beberapa jam, sebagian lagi bisa sampai beberapa bulan sebelum terlihat di hasil penelusuran. Tidak ada jaminan hasil dalam jangka waktu tertentu.
Pendapat kami yang mungkin berbeda dari banyak tips di internet: posting setiap hari tidak wajib. Yang lebih menentukan adalah apakah setiap konten menjawab sesuatu yang benar-benar ditanyakan pembeli. Dua konten yang berguna per minggu, dijaga selama tiga bulan, memberimu data yang jauh lebih jelas daripada tujuh konten asal jadi yang berhenti di minggu kedua.
Mau mulai minggu ini? Tulis empat pilarmu, isi satu minggu jadwal seperti tabel Kue Bu Rina, lalu kembali ke pilar media sosial untuk materi lanjutan. Kalau ada istilah yang membuatmu ragu, tanyakan ke asisten Belajar Marketing.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa bedanya content marketing dan social media marketing?
Content marketing adalah pendekatannya: membuat konten bermanfaat agar calon pembeli datang sendiri. Social media marketing adalah salah satu tempat menjalankannya. Konten yang sama bisa hidup di blog, website, email, atau marketplace, bukan hanya di Instagram dan TikTok.
Apakah content marketing sama dengan hard selling?
Tidak. HubSpot menjelaskan bahwa content marketing berfokus pada materi bernilai yang ditemukan sendiri oleh audiens, berbeda dari taktik outbound yang menyela mereka. Konten jualan tetap boleh ada, terutama di tahap keputusan, tetapi bukan satu-satunya isi akunmu.
Berapa kali sebaiknya saya posting dalam seminggu?
Tidak ada angka baku yang berlaku untuk semua usaha. HubSpot menekankan konsistensi, dan template kalender konten Kelola Konten pun menyebut dirinya hanya kerangka ide, bukan janji frekuensi atau performa. Pilih jumlah yang sanggup kamu jaga selama tiga bulan, lalu tambah kalau ternyata ringan.
Apakah content marketing butuh biaya besar?
Bisa dimulai dengan ponsel dan aplikasi gratis. Panduan HubSpot menyarankan anggaran dihitung dari empat pertanyaan: perlu membeli perangkat lunak atau alat, perlu menyewa penulis atau desainer, perlu membayar ruang iklan, dan perlu alat ukur khusus. Kalau jawabannya belum, biayanya terutama waktumu.
Bagaimana cara mengukur hasil content marketing?
Mulai dari tujuan, baru pilih angkanya. Untuk kesadaran merek, pantau kunjungan, pengikut, dan sebutan. Untuk penjualan, pantau pesanan dan pesan masuk yang menyebut konten tertentu. Untuk media sosial, engagement rate membantu membandingkan unggahan satu dengan lainnya.
Berapa lama content marketing mulai terlihat hasilnya?
Tidak ada jaminan waktu. Untuk konten yang ditemukan lewat Google, Panduan Memulai SEO dari Google menyebut sebagian perubahan terlihat dalam beberapa jam, sebagian lain bisa sampai beberapa bulan, dan umumnya perlu beberapa minggu untuk tahu apakah upaya itu berdampak. Catat angka tiap minggu supaya kamu bisa menilai dengan data, bukan perasaan.
Apa contoh content marketing paling mudah untuk UMKM?
Jawab satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan pembeli dalam bentuk video pendek atau carousel, misalnya cara menyimpan produk atau cara memilih ukuran. Simpan jawabannya, lalu pakai ulang di status WhatsApp, deskripsi produk marketplace, dan balasan chat.
Apakah pilar konten harus berjumlah lima?
Tidak. Panduan pilar konten Kelola Konten menyebut tidak ada angka yang berlaku untuk semua bisnis, dan tiga sampai lima pilar biasanya cukup untuk tim kecil karena setiap pilar masih bisa muncul beberapa kali dalam sebulan. Kalau usahamu dikerjakan sendiri, mulai dari tiga atau empat, lalu tambah bila bahan dan waktumu masih cukup.
Sumber
- How to Leverage Content Marketing, According to a Content Marketer HubSpot (blog.hubspot.com), diakses
- 2026 Marketing Statistics, Trends, & Data HubSpot (hubspot.com), diakses
- 2026 State of Marketing Report HubSpot (hubspot.com), diakses
- Membuat konten yang bermanfaat, tepercaya, dan mengutamakan pengguna Google Search Central (developers.google.com), diakses
- Panduan Memulai SEO: Dasar-Dasar Google Search Central (developers.google.com), diakses
- Digital 2026: Indonesia DataReportal (datareportal.com), diakses
- Pilar Konten Media Sosial: Cara Menentukan Content Pillar untuk Bisnis Kelola Konten (kelolakonten.com), diakses
- Template Kalender Konten Kelola Konten (kelolakonten.com), diakses



